Pages

google ads

Sunday, 13 February 2011

Solusi Problem CVT Honda BeAT


 

Motor matic memang termasuk motor yang nyaman untuk dikendarai. Mekanisme mesin skubek memang kompak. Itu karena skubek didukung CVT yang terdiri dari puli primer dan sekunder dengan kopling sentrifugal (otomatis). Saking kompaknya, skubek enggak butuh pemindah gigi. Ya, seperti Honda BeAT, suara mesin dan putarannya terbilang sangat halus mulai dari rpm bawah sampai atas.

Tapi, sehalus-halusnya CVT, kalau salah satu komponen bermasalah repot juga. Selain timbul suara berisik, tunggangan seperti tersendat mulai mesin dihidupkan hingga grip gas dibuka untuk jalankan motor matik.

Biasanya belt di puli mulai kotor, roller miring (peang), lubang alur di mangkuk puli skunder skunder agak terkikis atau mangkuk kampas kopling sentrifugal tiddak rata lagi. Makanya timbul suara aneh dan jalan skubek enggak normal.

Namun sumber semua masalah selain cara pakai yang kasar, juga tergantung dari cara pemilik merawat mesin. Apalagi komponen di CVT rawan debu, oli dan air. Ketika sudah tidak peduli lagi, komponen gampang rusak hingga timbul berisik atau jalan tersendat.

Cara paling sederhana jaga kondisi CVT agar tetap baik yaitu hindari 3 hal itu. Misal selalu bersihkan filter udara CVT setiap 3 bulan atau berbarengan saat servis berkala. Namun jika filter udara mulai berpori besar, tersumbat atau robek segera diganti dan tidak bisa ditawar.

Jika debu campur air masuk ke rumah CVT dan mengendap di belt atau roller, kedua komponen bukan cuma cepat terkikis tapi akan timbulkan suara mendecit. Parahnya lagi jalannya tunggangan tidak lencer lagi.

Persolan juga bisa dari cara pakai dan perawatan. Apalagi kalau komponen CVT juga gunakanan pelumas khusus berupa gemuk (grease) tidak dilakukan penggatian secara berkala. Makanya disarankan untuk melakukan pelumasan rutin setiap satu tahun sekali.


 

Sumber : ototips.otomotifnet.com

Saturday, 12 February 2011

Honda Vario Sering Mati Mendadak? Nih Penyebabnya!


Kasus Honda Vario mati mendadak jadi momok pemiliknya. Memang bikin panik, meski setelah didiamkan sejenak atau distarter bisa langsung kembali menyala.
Trus apa penyebabnya? Sebelum menyalahkan skubek Honda paling laris ini, sebaiknya instropeksi diri terlebih dahulu. Pasalnya, penyebab utamanya akibat human error. Mati mendadak pada Vario karena kehilangan kompresi. Ada dua penyebab. Yang pertama karena kesalahan saat melakukan penyetelan jarak kerenggangan klep (gb.1).
Kompresi pada Honda Vario tergolong tinggi, mencapai 10,7:1. Kompresi tinggi menghasilkan suhu tinggi di ruang bakar. Kalau terlalu tinggi, klep dan pelatuk (rocker arm) akan memuai.
Saat memuai, pelatuk akan terus mendorong klep sehingga kompresi bocor. Makanya ketika di selah akan terasa ngelos. Ini karena tidak ada kompresi. Saat mesin dingin, jarak kerenggangan klep akan kembali normal dan bisa dihidupkan lagi.
Tak heran bila sebenarnya Honda menyarankan kerenggangan klep yang cukup renggang untuk Vario. Dipatok 0,16 mm untuk klep masuk dan 0,25 mm untuk klep buang.
Bandingkan dengan Honda BeAT yang kompresinya lebih rendah, hanya 9,2:1. Kerenggangan klepnya bisa lebih rapat, hingga 0,14 mm untuk klep masuk dan buang.
Agar presisi, melakukan setel klep harus menggunakan alat ukur bernama filler (gb.2). Lempengan plat tipis ini menjadi patokan kerenggangan antara klep dan pelatuk klep.
Lalu, penyebab kedua adalah akibat tumpukan karbon di ruang bakar. Karbon (kerak diruang bakar) sering mengganjal klep sehingga klep terus terbuka dan kehilangan kompresi.
Begitu distarter lagi, karbonnya rontok dan bisa hidup kembali, Kalau yang ini harus dibersihkan secara berkala.
Biasanya di bengkel umum atau jaringan bengkel resmi Honda menawarkan service besar yang salah satu itemnya adalah melakukan pembersihan di ruang bakar.
Artinya, asal perawatannya benar, enggak akan mati mendadak.

 motorplus.otomotifnet.com

Wednesday, 9 February 2011

Pahami Pelumasan Mesin Skutik, Yuk Ikuti Petunjuk!

Mendengar kata pelumasan di skutik, jangan hanya terpaku pada oli mesin saja lo. Soalnya ada beberapa bagian lain yang juga butuh pelumasan serta penggantian pelumasnya secara berkala.

Yuk kita telaah bagian demi bagian itu. Karena jika sampai lolos dari perhatian, tandanya sobat enggak sayang sama motornya dong. Hehehe..!

Kalau untuk mesin, rata-rata penggantian periodik dilakukan minimal setiap 2.000 – 2.500 km. Tapi ingat, oli yang digunakan jangan asal lo. Pilih yang sesuai spesifikasi. Untuk skutik, sebaiknya gunakan yang berspek JASO MB. Karena oli ini cenderung lebih licin dan khusus dibuat untuk mesin kopling kering.

Maklum, pada skutik mesin cenderung bermain di putaran tinggi. Sehingga butuh pelumas yang lebih licin dan encer biar sirkulasi olinya cepat merambat ke semua komponen bergerak di silinder dan kepala silinder.

 Makanya lazimnya oli matik punya tingkat kekentalan atau SAE (Society of Automotive Engineers) lebih encer dari oli motor berkopling basah kayak bebek dan sport.

Bagian berikutnya yang juga kudu diperhatikan adalah oli girboks atau gigi reduksi. “Di skutik Honda, oli ini disarankan diganti setiap 8.000 km berbarengan dengan servis bagian CVT,” bilang Wedijanto Wi­darso, Manager Tecnical Departemen Service Divison PT Astra Honda Motor (AHM) beberapa waktu lalu.



Beberapa bagian komponen bergerak pada CVT wajib dilumasi menggunakan grease khusus tahan panas secara berkala
Rata-rata hampir sama pula dengan skutik merek lain. Tapi di matiknya Suzuki, sarannya setiap 5.000 km. Lalu khusus Yamaha Xeon, setiap 9.000 km.

Lantas oli apa yang harus digunakan? Menurut beberapa mekanik, untuk girboks gak masalah pakai oli mesin.

“Makin kental makin bagus. Tapi takarannya sedikit saja, sekitar 100 – 150 cc tergantung motornya,” bilang M. Fadli, juragan Fadli Motor di Jl. Raya Bogor Km.41,5 yang kerap menangani matik.

Namun kalau dari pabrikan sih rekomendasinya pakai oli khusus untuk gigi reduksi. Masing-masing pabrikan sudah mengeluarkan oli khususnya kayak Yamalube Gear Oil (Yamaha), SGO (Suzuki), AHM Oil Transmission Gear (Honda).

Lalu bagian mana lagi yang butuh pelumasan? “Beberapa komponen bergerak pada sistem CVT wajib dilumasi menggunakan grease khusus secara berkala. Sekalian membersihkan ruang CVT dari  kotoran dan debu. Untuk produk Yamaha umumnya setiap 10.000 km,” beber M. Abidin, Manager Technical Departement Service Division PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) beberapa waktu lalu.

Untuk produk Honda, kata Wedijanto setiap 8.000 km. Nah, bagian yang dilumasi antara lain primary sliding sheave berikut spacer-nya, secondary sliding sheave serta secondary­ fixed sheave dan sebagainya. (motorplus.otomotifnet.com)

Friday, 7 January 2011

my app at payperpost.com

Does euphonious remind you of an attachment.

for my app at payperpost.com

activate a blog to get paid review

Buy blog reviewsI found about LinkFromBlog from internet and thought I would sign up and give the service a try. LinkFromBlog initially differs from other blogs because instead of adding a tracking code the encourage you to write a single post with a visible badge to “activate your blog” this is to track how many hits and true traffic your website generates to individual posts rather to a homepage alone. Get buy blog reviews

They are also doing this to help promote their company and by having bloggers mention and write posts about them, it gives them free advertising for everyone who signs up. This is not a bad thing, bloggers should declare which and if they use any blogging programs for transparency in my opinion. But LinkFromBlog gives you the ability to use their invisible tracking image so nobody has to know about it as well.

Since this is my activation post for the company I haven’t even signed in yet to see what its all about, so stay tuned and I will let bloggers know if this service works for me.

Sunday, 2 January 2011

Upgrade Performa Yamaha Scorpio Z, Naik 2,5 Dk

OTOMOTIFNET - Yamaha Scorpio Z, termasuk salah satu motor sport yang tergolong favorit. Selain pengendaliannya yang lincah, tenaga yang dihasilkan mesinnya pun lumayan besar, karena kapasitas mesinnya cukup besar, 223 cc.

Tetapi, performa standar tetap dirasa kurang bagi sebagian penggunanya. Hal ini pula yang kerapa ditanyain Mr. Testo fans di email (Mr.testo10@gmail.com). Bisakah Scorpio dibikin lebih beringas dari standarnya?

Ingin tambah performa, bisa-bisa saja, tentu disarankan yang tidak terlalu banyak merogoh kocek terlalu dalam, masih bisa digunakan sehari-hari bukan? Berikut rekomendasi Mr. Testo untuk upgrade performa sang kalajengking ini tanpa biaya melunjak

PISTON ASLI


Beberapa ubahan peningkat performa ini, cukup banyak dilakukan beberapa bengkel, pada umumnya kilikan mesin 4 langkah, utamanya berkisar pada kepala silinder dan jeroan-jeroannya, seperti noken as, klep, per klep hingga slep kepala silinder.

Hal tambahan lain adalah pada pengapian, seperti koil, CDI hingga kabel busi dan businya. Tetapi, ada hal yang cukup simpel, dengan melakukan pengerjaan pada kepala silinder saja, dengan porting dan polish pada saluran masuk dan buang.

Seperti dilakukan oleh Tomy Huang, dari BRT, Cibinong. Menurutnya, upgrade bisa dilakukan bertahap, seperti mengganti CDI standar dengan CDI racikannya, serta mengganti kampas kopling dan per kopling, agar akselerasi bisa berlangsung cepat.

Beda CDI BRT buatannya, memiliki kurva pengapian yang berbeda pada putaran tertentu. Misal pada putaran di bawah 3.000 rpm, lalu di atas 5.000 pengapian pun maju. Efeknya, putaran mesin langsung meningkat.


Test dengan dynometer, lebih akurat

Knalpot standar masih bisa digunakan

Porting dan polish, agar aliran bahan bakar dan udara lebih lancar

Kampas kopling baru, akselerasi enggak loyo

Makanya, perlu cengkeraman kampas kopling yang lebih rapat serta per yang menekan kampas kopling lebih erat, agar sanggup menahan lonjakan putaran mesin yang disalurkan melalui kruk-asnya.

Dari sana, ada lagi peningkat performa yang bisa dilakukan, yaitu melakukan porting dan polish pada kepala silinder. Tujuannya bentuk saluran lebih diarahkan dan permukaannya dihaluskan agar aliran bahan bakar dan udara ke dalam ruang bakar menjadi lebih baik dan bisa berlangsung lebih cepat dari standar.

Sementara penggantian knalpot, menurut Tomy tak mesti dilakukan juga. Bisa saja pakai standar, sehingga settingan spuyer pada karburator pun sama dengan standarnya. Bila ingin mengganti knalpot free flow, barulah diganti spuyernya.

Tetapi, penggantian spuyer itu pun tak dilakukan dengan asal mengira-ngira. Pengukuran dilakukan di atas dynamometer untuk mengetahui kurva tenaga yang dihasilkan, serta diukur juga AFR alias Air Flow Ratio atau campuran bahan bakar di dalam mesin, jadi pemilihan spuyer yang digunakan bisa lebih sempurna.

Peningkatan tenaga yang dihasilkan bisa mencapai 2,5 dk lebih besar ketimbang standarnya. Itu tanpa penggantian knalpot dan tentunya tak melakukan settingan spuyer di karburator.

Soal biaya yang diperlukan, BRT menawarkan CDI seharga Rp 450 ribu, lantas per kopling Rp 100 ribu, kampas kopling Rp 150 ribu serta biaya porting Rp 450 ribu. Totalnya Rp 1,150 juta, cukup efisien untuk peningkatan tenaga Scorpio Anda, bukan?

Hasil Dyno test
Tenaga Standar 16,94 dk
Setelah Upgrade 18,59 dk

Sumber : ototips.otomotifnet.com

Antisipasi Berkendara Di Musim Hujan, Maksimalkan Fungsi Sepatbor!

OTOMOTIFNET - Rasa tidak nyaman berkendara saat turun hujan, pasti dialami semua motormania. Pasalnya selain badan basah kuyup, cipratan air dari roda depan besutan sendiri maupun kendaraan lain yang berada di depan, bikin susah.

Contoh Isharyanto, karyawan swas­ta yang warga Bekasi. Karena sepatbor depan Yamaha Scorpio-nya rompal di ujungnya akibat kecelakaan beberapa bulan lalu, saat hujan kurang mampu menahan cipratan air dari roda depan.

Alhasil, cipratan tersebut berbalik ke belakang hingga mengenai kaca helm. Tak ayal, air hujan yang sudah bercampur lumpur/kotoran, menghalangi pandangannya dan membahayakan diri sendiri maupun pengendara lain.


Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4

“Kalau sekali dua kali bersihin kaca helm sambil jalan atau kudu berhenti sih enggak masalah. Tapi kalau terus menerus, apalagi musim hujan kayak sekarang ini, bikin repot. Mau tak mau sepatbor kudu diganti,” kisah pria lajang ini.

Makanya, segera perbaiki. Tebus aja sepatbor baru seharga Rp 90 ribu. Setelah itu, Yanto yang suka oprek motor sendiri ini langsung menggarapnya. Mau tahu cara bongkar pasangnya, yuk lihat praktik pria berpostur tinggi 165 cm ini. Tapi sebelumnya siapkan kunci ring 10, 17, 19, bor dan gergaji besi.

Langkah awal, buka roda depan dengan melepas baut pengikat as bagian kanan, pakai kunci ring 19 (gbr.1). Bila as roda ikut berputar, bagian kiri ditahan pakai kunci ring 17. Lalu lepas as roda yang dilanjutkan mencopot rodanya.

Terus buka 4 baut pengikat sepatbor pada rumah sok depan di bagian dalam, gunakan kunci ring 10 (gbr.2). Kalau sudah, melepas sepatbor cukup ditarik ke bawah dan dilanjutkan memasang sepatbor baru lewat cara kebalikan saat membongkar.


Gbr 5

Gampang toh? Eits tunggu dulu! Karena Yanto juga merasa tidak nyaman karena cipratan roda bagian depan juga mengenai kaki hingga ke betis, pria ramah ini memasang penahan cipratan dari potongan sepatbor bekas bawaan motor bebek.

“Kebetulan punya sepatbor depan, bekas motor Honda Supra yang mempunyai buntut/kepet agak panjang. Sehingga saat saya potong pakai gergaji besi pada bagian belakangnya, bisa pas pada buntut sepatbor depan Scorpio. Lantas saya lubangi tiap ujung sepatbor pakai mata bor (gbr.3), lalu diikat pakai mur baut ukuran 10 mm (gbr.4),” urai Yanto.

Masih ujarnya. “Kepet tambahan ini bisa memakai sepatbor bekas motor apa saja, yang penting motor bebek serta kepetnya panjang. Atau bisa bikin dari bahan plastik lain yang profilnya lebar. Manfaatnya juga oke, selain air tidak nyiprat lagi, mesin juga terjaga kebersihannya.”

Nah kalau sudah, tinggal memasang roda depan dan merakit kembali peranti yang sudah dibongkar (gbr.5).


Sumber : ototips.otomotifnet.com