Pages

google ads

Showing posts with label V-Ixion. Show all posts
Showing posts with label V-Ixion. Show all posts

Friday, 26 November 2010

Uji Kemampuan Prototipe Piggyback Yamaha V-Ixion

OTOMOTIFNET - Motor injeksi didesain pintar, semua hal yang berkaitan dengan pembakaran diatur ECU. Baik suplai bahan bakar maupun pengapian diatur presisi. Sehingga efisiensinya tinggi.

Namun di balik kecanggihannya itu, ternyata merepotkan bagi yang doyan otak-atik motor. Lantaran sulit saat akan dibikin kencang, meskipun mesin sudah dikorek namun suplai bahan bakar dan pengapian tetap terprogram ECU.

Misal saat akan memperbanyak bensin, jika di motor berkarburator tinggal memperbesar ukuran spuyer. Nah jika di sistem injeksi lebih rumit. Memang bisa sedikit diatasi dengan setting ulang CO dengan FI-Diagnostic Tool. Namun cara ini tak praktis, dan alatnya hanya dimiliki bengkel resmi.

Nah makanya perlu alat penipu, atau yang biasa disebut piggyback. Peranti ini berfungsi untuk menipu sinyal dari sensor sebelum masuk ECU, sehingga suplai bensin bisa diset secara gampang mau dibikin miskin (lean) atau kaya (rich).

Di pasaran memang belum ada yang menjual khusus V-Ixion. Namun tak lama lagi hadir buatan Koso. “Saat ini masih riset, nanti awal 2011 akan diedarkan,” terang Koh Awi, pemegang merek Koso. Harganya dipastikan di bawah Rp 1 juta.


Pmasangan secara seri pada kabel MAP sensor

Meskipun masih prototype, OTOMOTIF berkesempatan mencobanya. Biar afdol sekalian dilakukan pengukuran pakai dynamometer milik PT Global Motorindo, sehingga perubahan performa benar-benar terukur secara real.

Oh iya, piggyback buatan Koso ini didesain simpel. Hanya kotak kecil dengan 4 kabel, di bodinya terdapat garis-garis menunjukkan tingkat suplai bensin. Di tengahnya ada LED biru yang menunjukkan bahwa alat sudah bekerja.

Pemasangannya gampang. “Sambung secara seri pada kabel MAP sensor,” terang Fidelis, salah satu mekanik spesialis V-Ixion yang dipercaya melakukan riset.

Berarti memutus kabel pink setrip putih yang akan masuk ECU. Kabel putih sambung ke yang masuk kabel bodi, yang kuning sambung ke yang masuk ECU. Sedang kabel merah masuk ke arus positif, kabel hitam ke ground.

Nah bagaimana hasilnya? Saat kondisi standar tenaga V-Ixion terukur 13,1 dk/8.412 rpm dan torsi 11,56 Nm/7.408 rpm. Setelah dipasang, berdasarkan hasil uji coba Fidel, knop diposisikan paling miskin (lean).

Hasilnya cukup mengagetkan karena tenaga naik jadi 13,5 dk/8.722 rpm sedang torsi 11,86 Nm/7.389 rpm. Kemudian naikkan posisi lebih kaya satu strip, tenaga kembali naik menjadi 13,7 dk/8.591 rpm dan torsi 11,96 Nm/7.543 rpm.

Ingin tahu bagaimana hasilnya jika dibikin lebih kaya, kali ini coba langsung naik 2 step. Wah ternyata tenaga malah turun, menjadi 13,4 dk/8.543 rpm torsi 11,86 Nm/7.556 rpm. “Respon mesin juga lambat, terasa terlalu kebanyakan bensin,” terang Teddy Cong, mekanik yang mengoperasikan dynamometer.

Ditunggu kehadirannya!

Sumber : ototips.otomotifnet.com

Tuesday, 16 November 2010

Mix And Match Part Performa Yamaha V-Ixion

OTOMOTIFNET - Meningkatkan performa Yamaha V-Ixion agar makin beringas, bisa dengan mengombinasikan beberapa part racing (mix & match) yang ada di pasaran. Kali ini kami padukan dua komponen, yaitu bagian pembuangan dan suplai bensin.

Biar tahu kombinasi yang pas, dilakukan pengukuran performa dengan dynamometer Sport Devices milik PT Global Motorindo di kawasan Galur, Senen, Jakpus. Motor yang digunakan dalam kondisi standar. Bahan bakar Pertamax. Oh iya, V-Ixion kondisi standar terukur 13,1 dk/8.412 rpm dan 11,56 Nm/7.408 rpm.

Bagian pembuangan dipilih merek Stanlee. Lantaran berdasarkan pengukuran sebelumnya (komparasi), punya karakter rata di semua putaran, juga harga terjangkau (Rp 600 ribu).

Sedang suplai bahan bakar dimanipulasi menggunakan piggyback buatan Koso, yang sebenarnya masih prototype. Alat ini akan beredar awal 2011. Untuk lebih lengkapnya silakan simak halaman 20.

Kombinasi pertama knalpot Stanlee dengan setingan bensin pada posisi paling miskin. Hasilnya tenaga menjadi 13,8 dk/9.331 rpm torsi 11,96 Nm/7.415. Namun dari grafik terbaca pada putaran bawah baik torsi maupun tenaga terlihat lambat naik. “Lantaran terlalu kering,” terang Teddy Cong, yang mengoperasikan dynamometer.

Kombinasi kedua coba suplai bahan bakar diperkaya, dengan memutar knop piggyback ke kanan satu tingkat. Hasilnya tenaga kembali naik jadi 14 dk di kitiran 9.103 rpm, torsinya menjadi 12,1 Nm/7.380. Tenaga naik 0,9 dk, torsi 0,54 Nm.


Piggyback digunakan untuk memanipulasi suplai bensin

Knalpot Stanlee, karakter merata dari bawah sampai atas

Dari grafik hasil dyno, terlihat jika dari bawah sampai atas lebih baik dibanding kombinasi pertama maupun saat standar. Dan performa maksimal tercapai pada putaran yang lebih rendah, berarti akselerasi makin cepat.

Kombinasi ketiga, suplai bensin kembali dinaikkan satu step. Hasilnya ternyata malah terjadi penurunan tenaga maupun torsi. Yaitu 13,8 dk/9.061 rpm, torsi 11,86 Nm/7.428 rpm.

Dilihat dari grafiknya pada putaran bawah sampai menengah lumayan bagus, hanya di atas menurun. Hal ini terjadi lantaran bensin yang dikucurkan terlalu banyak.

Kesimpulan
Kombinasi antara knalpot aftermarket dan piggyback bisa meningkatkan performa mesin, dengan catatan suplai bensin tak terlalu kaya maupun miskin. Pada percobaan kali ini, kombinasi paling pas untuk knalpot Stanlee dengan klik ke-2.


Sumber : ototips.otomotifnet.com

Tuesday, 9 November 2010

Bore-Up Yamaha V-Ixion? Lebih Hemat Pilih Paket

OTOMOTIFNET - Untuk melakukan pembengkakan kapasitas me­sin, tentu seperti umum­nya motor lain, piston dengan diameter lebih besar bisa dilakukan. Pada Yamaha V-Ixion pun demikian, "Mengganti piston lebih besar pasti meningkatkan tenaga mesin," ujar Juffry Willar dari Mitra2000.

Buat tunggangan yang masih dipakai sehari-hari, tentu ada batasan toleransi agar masih enak digunakan dan nyaman, tentu tidak merepotkan penggunanya. "Bisa menggunakan diameter piston paling besar 61 mm," tuturnya.

Namun, menurutnya, paling ideal sih menggunakan piston diameter 60 mm. "Ada paketnya, komplet set, untuk bore-up V-Ixion," kata Juffry lagi. Seperti paket yang tersedia di gerai Mitra2000 salah satunya.

Sebenarnya paket bore-up ini disiapkan untuk Yamaha Jupiter MX, “Tetapi karena sama persis dengan V-Ixion bisa dipakai juga buat V-Ixion,” ujar Juffry.




Radiator V-Ixion tak perlu ada perubahan

Kampas kopling diganti jika perlu

Oli tetep sama, hanya waktu ganti lebih dekat
Apa saja yang terdapat pada paket itu? Juffry pun menuturkan dengan cukup lengkap. Mulai dari piston dan ring pistonnya, kemudian ada juga pen piston serta blok silinder, tak kurang, gasket pun disediakan juga dalam satu paket ini.

Jadi, sistemnya sama dengan plug n play saja. Tinggal pasang langsung bisa dinyalakan tunggangannya. Untuk paket ini, dilego dengan harga Rp 797 ribu, komplet set! Jika ingin langsung dipasang, tinggal tambah ongkos pasang saja Rp 400 ribu.

Dengan memasang paket bore-up ini, kapasitas mesin pun melonjak jadi 166 cc, cukup jauh bukan? Otomatis tenaganya pun semakin galak. Apalagi, jika dipasangkan knalpot free flow agar saluran gas buang semakin lancar, sesuai dengan gas yang terbakar dalam ruang bakar yang semakin melimpah.

"Knalpot ini (TDR, red) dijual dengan harga Rp 930 ribu," ungkap Juffry. Tetapi, tentu pilihan knalpot lainnya pun bisa diraih dari gerai-gerai aksesori yang menjual knalpot untuk Yamaha V-Ixion.

Ada lagi, peranti yang mungkin perlu diganti baru, yaitu kampas kopling, agar tenaga dari mesin yang meningkat ini bisa tersalurkan dengan baik ke roda belakang. Namun, jika dirasa masih bisa mengimbangi kemampuan mesinnya, kopling ini tak perlu diganti baru.

Lantas, apa sih perlakuan yang perlu diperhatikan penggunanya, ketika tunggangan sudah menambah kapasitas mesin seperti pada V-Ixion ini? "Tentu soal pelumas mesin, sebaiknya lebih cepat diganti, misal jika biasanya diganti sekitar 1.500 km, maka sekarang tiap 1.000 km saja diganti olinya," jelasnya.

Alasannya, dengan kapasitas mesin lebih besar, ruang bakar pun bertambah volumenya, sehingga panas yang dihasilkan dalam ruang bakar pun semakin tinggi, karena itu, penggunaan oli pun menjadi lebih banyak, karena suhunya meningkat.

"Karena mesinnya lebih panas dari biasanya, kalau sudah bore-up," jelasnya. Lalu, bagaimana dengan sistem pendinginan mesinnya? "Radiator dan air radiator tak perlu perlakuan khusus, tetap seperti semula saja," katanya.

Sumber : ototips.otomotifnet.com

Thursday, 14 January 2010

Problem V-Ixion Susah Oper Gigi, Nok Harus Sejajar

OTOMOTIFNET - Pernah suatu ketika, bengkel resmi Yamaha Amie Jaya Motor (AMJ) menerima keluhan konsumen pengguna Yamaha V-Ixion. “Keluhan seputar susahnya saat oper gigi. Terutama pada posisi persneling netral,” ucap Yayat Suryana, kepala mekanik bengkel AMJ.

Dengan bekal keluhan itu, pria berkumis tipis ini melakukan beberapa pengecekan dan tentu sekaligus memberikan solusi. Lho kok mesti melakukan beberapa observasi Pak? “Hal itu karena, ada beberapa penyebab yang membuat V-Ixion susah oper gigi,” jelasnya.

Pengecekan pertama, memastikan posisi nok yang ada pada tuas penekan kopling dan nok yang ada di karter mesin sejajar (gbr.1). “Bila kedapatan 2 nok itu tak sejajar, maka saat tuas kopling ditekan, mekanisme kopling tak bekerja semestinya. Akibatnya, saat melakukan oper gigi akan terasa keras,” terang Yayat.

Nah ada 2 solusi yang bisa dipakai, untuk membuat 2 nok tersebut sejajar lagi. Pertama, lakukan penyetelan yang ada pada pangkal slang kabel kopling (gbr.2). Untuk keperluan tersebut, alatnya cukup pakai kunci pas ukuran 10.


Gbr 1

Gbr 2

Gbr 3

Gbr 4

“Bila 2 nok itu belum sejajar, lanjutkan penyetelan berikutnya. Tapi sebelum melakukan solusi yang ke-2, pastikan setelan yang ada di pangkal slang kabel kopling dalam posisi seperti semula,” anjur mekanik cekatan ini.

Untuk cara ke-2, dilakukan penyetelan pada batang penekan pendek tuas kopling. Nah solusi ini pengerjaan dan alat yang dibutuhkan agak banyak. Pasalnya posisi batang penekan pendek tuas kopling, ada di pelat penekan kampas kopling (gbr.3).

“Alat yang mesti disiapkan, kunci T-8 dan kunci pas ukuran 17. Alat-alat tersebut dipakai untuk melepas bak kopling dan tuas starter. Selanjutnya untuk penyetelan, diperlukan kunci pas 10 dan obeng kembang,” lanjut Yayat.

Cara penyetelannya dengan terlebih dulu mengendurkan mur ukuran 10, yang dipakai untuk mengunci batang penekan pendek tuas kopling. Selanjutnya baru memutar batang keluar atau ke dalam, sampai 2 nok tersebut bisa sejajar.

Bila masih susah oper gigi, maka mesti dicek pada part yang namanya tuas penekan kopling. Menurut Yayat, ada kemungkinan terdapat masalah pada batang tuas penekan kopling (gbr.4), sehingga mengganggu kinerja part tersebut saat hendak oper gigi.


Sumber : ototips.otomotifnet.com